Indonesia memiliki potensi alam dan budaya yang sangat kaya dan dapat menjadi modal bagi sektor pariwisata. Dari sekian banyak jenis pariwisata, pariwisata perdesaan diketahui merupakan jenis pariwisata yang berkembang pesat di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Hingga saat ini, terdapat 1.734 desa wisata yang tersebar di seluruh Indonesia.

Desa Wisata dianggap menjadi potensi yang dapat memberikan dampak positif, baik secara ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan, kepada masyarakat desa yang memiliki keterbatasan pengetahuan serta sumber pendapatan. Namun, potensi tersebut tersandung di awal tahun 2019 akibat merebaknya pandemi Covid-19.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus ini, tempat-tempat wisata mau tak mau membatasi bahkan menutup aksesnya dari kunjungan turis. Hal ini tentunya akan memberikan kerugian yang tidak sedikit bagi pelaku desa wisata. Oleh karena itu, desa wisata harus beradaptasi untuk memulihkan kondisi kepariwisataan agar perekonomian perdesaan tetap menyala dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat di desa wisata.

Persoalan ini cukup menarik perhatian khalayak, termasuk Syarifah Muslimat, narasumber pada Webinar Desa Berbagi yang diselenggarakan Shirvano Consultant pada 2 September 2020. Mahasiswi program studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro ini kemudian melakukan mini-riset guna mengeksplorasi strategi desa wisata (studi kasus: Desa Wisata Nglanggeran) dalam menghadapi situasi kenormalan baru ini.

 

Desa Wisata Nglanggeran merupakan salah satu lokasi percontohan penerapan kenormalan baru (new normal) oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Wisata Nglanggeran yang pernah memperoleh penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) pada tahun 2017 ini secara resmi sempat menutup kunjungan wisata untuk sementara waktu dimulai pada 23 Maret 2020 sebagai respon atas ancaman meluasnya Virus COVID-19. Tahap menutup desa wisata secara sementara ini adalah tahap pertama atau disebut tahap Q1.

Meskipun pengelolaan desa wisata bukan merupakan sumber pendapatan utama masyarakat di Desa Wisata Nglanggeran namun tidak dapat dipungkiri bahwa pendapatan masyarakat Desa Wisata Nglanggeran jauh berkurang karena pendapatan dari pengelolaan desa wisata lebih besar dari sumber pendapatan lainnya. Beberapa warga Desa Wisata Nglanggeran juga merasakan kelumpuhan perekonomian, terutama bagi warga Desa Wisata Nglanggeran yang bergantung pada pemasukan dari usaha yang berhubungan langsung dengan desa wisata misalnya penjualan oleh – oleh, jasa transportasi, atau usaha penginapan.

Selama kunjungan desa wisata ditutup sementara, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Desa Wisata Nglanggeran tetap menugaskan anggotanya untuk tetap berjaga di lokasi wisata. Kehadiran petugas dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) ini dilakukan demi menjaga kebersihan objek wisata, merawat sarana dan prasarana yang berkaitan dengan desa wisata, dan memastikan para calon pengunjung desa wisata mengetahui bahwa kunjungan desa wisata ditutup untuk sementara waktu.

Para petugas dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nglanggeran juga mulai menerapkan protokol kesehatan atau Cleanliness, Health and Safety (CHS) di Desa Wisata Nglanggeran dengan memastikan ketersediaan sarana cuci tangan, sabun, dan kebutuhan lainnya. Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran secara intens tetap mengupayakan komunikasi antar masyarakat dan melakukan promosi desa wisata. “Harapannya ketika wabah covid-19 ini selesai, kita juga siap menerima tamu,” ujar Sugeng Handoko, salah satu pengurus Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran yang dikutip pembicaraannya dalam presentasi narasumber.

Selain dampak kelumpuhan ekonomi, sebenarnya pandemi covid-19 memberikan peluang untuk pengembangan inovasi dan kreativitas industri desa wisata, terutama diversifikasi metode pariwisata. Hal tersebut juga berlaku di Desa Wisata Nglanggeran. Di tahap Q2 atau adaptasi ini, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nglanggeran berkolaborasi dengan komunitas untuk membuka kunjungan wisata secara virtual (virtual trip). Wisata yang berlangsung dua jam ini memberikan pengalaman menjelajahi itinerary seluruh tempat wisata di Desa Wisata Nglanggeran—yang seharusnya baru dapat dijelajahi selama dua hari jika dilakukan secara offline.

Menurut Endah Dwi Fardhani dari HRC Caritra bahwa ide kunjungan desa wisata secara virtual ini sangat menarik dan juga dapat diterapkan di desa wisata lainnya, namun selain kemampuan terkait teknologi informasi juga diperlukan kemampuan melayani wisatawan secara daring atau online tour guide untuk dapat memvisualisasikan atraksi desa wisata menjadi narasi yang dapat dirasakan oleh pengunjung desa wisata virtual ini.

Akhirnya setelah dilakukan persiapan yang matang, pada bulan Juni Desa Wisata Nglanggeran ini resmi kembali dibuka untuk kunjungan wisata dengan mengimplementasikan CHS: (1) penyediaan fasilitas untuk menunjang protokol kesehatan; (2) pembatasan pengunjung maksimal 500 orang/hari; (3) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk reservasi dan pembayaran tiket; dan (4) penerapan physical distancing.

Hanya 7 dari 16 paket wisata di Desa Wisata Nglanggeran yang dibuka pada kondisi pandemi covid-19 ini sebagai upaya pemulihan atau Q3, antara lain paket-paket wisata yang tidak berisiko tinggi dan tidak memiliki kontak fisik antar dengan masyarakat seperti paket sunrise & sunset serta paket studi banding. Seluruh akomodasi penunjang desa wisata pun masih ditutup sehingga wisatawan tidak dapat menginap di Desa Wisata Nglanggeran.

Meskipun belum terukur dampaknya secara kuantitatif, berbagai strategi yang dilakukan Desa Wisata Nglanggeran ini layak menjadi contoh bagi pemulihan destinasi desa wisata sejenis lainnya. Demi kembali mengembalikan masa kejayaan desa wisata dibutuhkan kepercayaan publik dalam mendukung upaya pemulihan desa wisata antara lain dengan menjadi pelaku wisata yang bertanggung jawab, mematuhi protokol kesehatan, serta menyebarkan pesan positif terkait kenormalan baru pariwisata di Indonesia. (DA)

 

Materi diambil dari “Webinar Ruang Berbagi Desa: Strategi Desa Wisata Nglanggeran dalam Menghadapi Tatanan Kenormalan Baru” pada 2 September 2020.