panduan infrastruktur desa

Panduan tata bangunan dibuat dengan mengutamakan nilai-nilai gotong royong, Tangguh, Tanggap dan Tanggon untuk mewujudkan kawasan yang Hijau, Kompak dan memiliki Jejaring Kawasan yang baik.

 

Ruang Terbuka Hijau

Standar ruang terbuka hijau adalah ±15 m2 per jiwa dengan lokasi menyebar, sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 32/Permen/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.
Luas lahan sebagai ruang terbuka hijau  disatukan dengan pusat kegiatan. Ruang terbuka yang sudah ada dipertahankan, dengan setiap paguyuban RW memiliki pos ronda dan papan koran dinding sebagai ruang publik.

 

Fasilitas Lingkungan

Fasilitas lingkungan sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 32/Permen/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri, antara lain sebagai berikut:

  1.     Taman Kanak-Kanak (TK) untuk melayani ±1000 jiwa, dengan luas tanah ±1200 m2 dan radius pencapaian ±500 m.
  2.     Sekolah Dasar (SD) untuk melayani ±1600 jiwa, dengan luas tanah ±2400 m2 dan radius pencapaian ±1000 m.
  3.     Puskesmas Pembantu dengan luas tanah ±200 m2 dan radius pencapaian maksimum ±1500 m.
  4.     Tempat Bermain untuk kebutuhan kelompok 50 Kepala Keluarga (KK).
  5.     Pos hansip dan balai pertemuan dengan luas tanah ±300 m2.
  6.     Gedung parkir dengan luas tanah ±300 m2 di beberapa titik di zona perumahan.

Sirkulasi Jalan

Moda transportasi meliputi sepeda, sepeda motor, mobil dan truk. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan, jaringan jalan Desa diklasifikasikan dalam sistem jalan kabupaten dan desa, dengan kelas jalan sebagai berikut:

  1. Jalan kolektor primer. Jalan ini didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 40 km/jam, dengan lebar jalan badan minimal 9 meter.
  2. Jalan lokal primer. Jalan ini didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 20 km/jam, dengan lebar badan jalan minimal 7,5 meter.
  3. Jalan lingkungan primer. Jalan ini didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 15 km/jam, dengan lebar badan jalan minimal 6,5 meter. Untuk jalan yang diperuntukkan bagi kendaraan beroda 2, lebar jalan minimal 3,5 meter sehingga mobil ambulans masih bisa masuk apabila terjadi keadaan gawat darurat.
  4. Jalan kolektor sekunder. Jalan ini didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 20 km/jam, dengan lebar jalan minimal 9 meter.
  5. Jalan lokal sekunder. Jalan ini didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 10 km/jam, dengan lebar badan jalan minimal 7,5 meter.
  6. Jalan lingkungan sekunder. Jalan ini didesain berdasarkan kecepatan rencana minimal 10 km/jam, dengan lebar badan jalan minimal 6,5 meter. Untuk jalan yang diperuntukkan bagi kendaraan beroda 2, lebar jalan minimal 3,5 meter sehingga mobil ambulans masih bisa masuk apabila terjadi keadaan gawat darurat.

Jalan kolektor dan jalan lokal menggunakan perkerasan aspal, sementara jalan lingkungan menggunakan perkerasan paving block. Terdapat drainase di sisi kanan dan kiri jalan untuk semua kelas jalan. Selain 6 kelas jalan yang disebutkan di atas, terdapat pula jalan khusus untuk pejalan kaki yang tidak boleh dilalui oleh kendaraan bermotor. Di setiap gang, dipasang penanda nama gang yang terbuat dari material berbahan kayu. Nama gang memakai nama-nama buah atau hasil pertanian lainnya.

 

Jarak Antar Bangunan

Jarak antar rumah minimal 2 meter. Dengan jarak tersebut, setiap rumah mendapatkan lahan pekarangan, akses sirkulasi, cahaya matahari yang cukup, serta penghawaan yang baik.

 

Luasan dan Ketinggian Bangunan

Standar luasan bangunan ditentukan berdasarkan Koefisien Dasar Bangunan (KDB), yaitu angka perbandingan (persentase) luas lantai dasar bangunan terhadap luas lahan. Adanya KDB bertujuan untuk menjaga ketersediaan daerah resapan air. Besaran KDB  adalah sebagai berikut:

  1.     Zona permukiman dan industri rumah tangga: 50%.
  2.     Zona pengembangan perumahan baru: 40%.
  3.     Zona pengembangan perdagangan dan jasa: 60%.