Badan Pusat Statistik tahun 2014 menghimpun data tentang lahan pertanian yang terus mengalami penurunan dengan rata-rata 100 ribu ha per tahun. Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, terdapat sekitar 105 kabupaten/kota, 715 kecamatan, serta 2.726 kelurahan/desa di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan akibat musim kemarau normal pada 2017. Dan udara di Indonesia menjadi peringkat ke 8 di dunia dengan rata-rata kematian 50 ribu per tahun (Bloomberg, 2015).

Desa memiliki tiga komoditas strategis yang diprediksi menjadi kelangkaan di masa mendatang, yaitu air bersih, udara bersih dan pangan sehat, sehingga menjadikannya unit strategis dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan. Hal ini didukung dengan salah satu program utama Pemerintah Indonesia yang menempatkan desa sebagai unit strategis pembangunan, dengan mewujudkan penganggaran dana desa dan penetapan undang-undang desa. Untuk itu, dibutuhkan perencanaan dan pendampingan dalam memaksimalkan potensi-potensi desa sehingga pembangunannya terarah dan berkelanjutan.

Dengan modal sosial masyarakat desa yang masih memiliki rasa kebersamaan yang tinggi dan kehidupan sosial masyarakatnya yang masih mengandung nilai-nilai kearifan lokal, pendampingan desa merupakan suatu langkah yang strategis dalam mewujudkan perencanaan desa yang berkelanjutan. Perencanaan dan pendampingan masterplan desa melihat potensi, masalah dan merumuskan visi, misi dan perencanaan strategis dengan melibatkan peran serta masyarakat secara aktif, bersama pemerintah dan pendamping desa.

Produk Pembangunan Desa

  • Profil Desa (Peta dan Data Spasial)

  • Desain Tata Desa

  • Program & Roadmap

  • Branding & Festival

  • Peraturan Desa

  • Gambar Kerja (DED) & RAB

  • E – desa