Webinar masterplan desa seri ke-29 adalah seri webinar yang diselenggarakan oleh HRC Caritra sebagai wadah berbagi pengetahuan dan informasi. Webinar ini mengambil tema Desa Wisata dengan topik pembahasannya adalah Pengembangan Desa Wisata Berbasis Potensi Alam & Budaya. Webinar dilaksanakan melalui zoom meeting pada hari Jumat, 24 Juni 2022 pukul 14.00-15.30 WIB. Terdapat 3 narasumber yang mengisi materi terkait topik pembahasan, yaitu Ir. Gunawan Wibisana MSP, LRPA, PSA (Perencana Desa Wisata dan Fotografer), Dina Mariana S.H., M.H. (Direktur Badan Eksekutif IRE Yogyakarta), dan Redempta T. Bato (Ketua Yayasan Sumba Hospitality).

Materi pertama dibawakan oleh Ibu Dempta berjudul Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan sebagai Strategi Pelestarian Budaya, Ekonomi, dan Keberlangsungan Masa Depan Sumba. Materi ini banyak membahas studi kasus Sumba dalam mengembangkan desa wisata berbasis budaya, lingkungan, dan ekonomi. Daya tarik wisata terbesar di Sumba adalah alam yang indah dan aktivitas budaya yang masih terjaga.

Namun ada tantangan besar jika potensi-potensi tersebut tidak dikelola dengan baik, yaitu terjadinya benturan budaya antara masyarakat lokal dan pendatang. Salah satu kondisi yang sekarang terjadi di Sumba adalah pembelian tanah secara masif. Sebanyak 97% lahan di area potensi strategis dan wilayah pesisir sudah dikuasai oleh investor yang bertujuan untuk pengembangan di bidang pariwisata. Kondisi itu menyebabkan ruang-ruang sosial budaya dikuasai oleh pendatang, mulai menggeser masyarakat lokal sendiri. Selain itu, Sumba juga memiliki angka pengangguran tinggi, malnutrisi, serta kemiskinan ekstrem pada keempat kabupatennya.

Berdasarkan potensi investasi pariwisata dan permasalahan yang ada, maka dibutuhkan solusi yaitu pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Manfaat jangka panjang pariwisata berkelanjutan yaitu pengentasan kemiskinan, terciptanya peluang kerja, pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, perbaikan infrastruktur kesehatan, serta kemudahan fasilitas. Pengembangan desa wisata yang berkelanjutan harus dapat memungkinkan masyarakat lokal bisa terlibat aktif dan mendapatkan manfaat dari setiap aktivitas wisata yang ada.

Materi yang kedua dibawakan oleh Bapak Gunawan Wibisana berjudul “Desa Wisata Berbasis Potensi Alam dan Budaya”. Materi ini memaparkan bagaimana alur perencanaan dari pengembangan desa wisata. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan adalah isu-isu pembangunan yang berkeadilan. Tren urbanisasi terus meningkat sehingga orang-orang bermigrasi ke kota-kota untuk kehidupan yang lebih sejahtera dan makmur. Hal tersebut menciptakan kesenjangan antara desa dan kota sehingga dibutuhkan strategi pengembangan wisata. Salah satu strategi tersebut adalah melalui pengembangan DEWISLTER (Desa Wisata Lestari Terpadu).

Konsep terpadu adalah salah satu aspek penting dalam pengembangan DEWISLTER. Terpadu dalam hal ini memiliki makna fasilitas-fasilitas di suatu kawasan desa wisata harus tersedia, baik dari kemudahan akses menuju sarana transportasi maupun fasilitas lainnya seperti kesehatan dan akomodasi. Salah satu manfaat pengembangan desa wisata yaitu mengurangi laju perpindahan penduduk dari desa ke kota. Prinsip utama pengembangan desa wisata di Indonesia adalah kesetaraan menghormati antara host (tuan rumah) dan visitor (pengunjung). Hal-hal lain yang dijelaskan pada materi juga menyangkut skema pengembangan desa wisata melalui komponen desa wisata 5A3P, indikator tahapan pengembangan, syarat-syarat menjadi desa wisata, serta peran dari masyarakat lokal desa wisata.

Materi yang terakhir dibawakan oleh Ibu Dina Mariana berjudul “Membangun (Ekosistem) Desa Wisata Berkelanjutan”. Materi ini lebih berfokus pada contoh desa wisata yang telah ada sebelumnya, sehingga didapatkan pembelajaran yang bisa diambil dalam mengembangkan desa wisata baru. Contoh yang pertama adalah Kampung Adat Ratenggaro, di Sumba Barat Daya. Konsep pengembangan wisata di desa tersebut menyesuaikan nilai adat/budaya setempat. Kebudayaan tetap ditonjolkan tetapi tidak mengubah struktur nilai adat yg ada, sehingga meminimalisir timbulnya konflik dalam masyarakat. Pembentukan kemitraan multipihak dan kelembagaan yang kuat juga menjadi aspek penting dalam pengembangan desa wisata tersebut.

 

 

Desa wisata percontohan selanjutnya terdapat di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan. Terdapat 8 desa di Kecamatan ini yang tergabung dalam kawasan desa wisata. Daya tarik wisata yang ditawarkan yaitu agrowisata, wisata edukasi, alam, budaya, dan kuliner. Terakhir, ada Desa Karangrejo, Magelang sebagai salah satu desa yang mendapat pengaruh dari program pembangunan destinasi super prioritas Borobudur. Desa dengan tingkat pendidikan dan kesejahteraan penduduk yang rendah ini telah tumbuh menjadi desa dengan fasilitas infrastruktur pendukung yang terbilang cukup mewah. Pembangunan infrastruktur ini sayangnya tidak dibarengi dengan penguatan kelembagaan dan kapasitas masyarakat. Maka dari itu, pendampingan oleh tenaga ahli juga diperlukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal akan pengembangan desa wisata.

Sebagai penutup, desa wisata berbasis potensi alam dan budaya penting dikembangkan se-orisinil mungkin, sehingga dapat menyajikan wisata budaya khas desa. Desa Wisata bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui diversifikasi ekonomi. Harapannya, masyarakat lokal dapat terlibat aktif dalam proses pengembangan desa wisata sehingga tercipta kemandirian desa (MYP/SA).