Sungai Jingah terkenal sebagai salah satu kawasan perkampungan tua di Kota Banjarmasin. Kawasan ini banyak ditemui rumah Banjar yang masih terawat dan layak, meskipun saat ini sudah banyak yang tidak dihuni, selain itu alamnya yang berada di tepian sungai juga merupakan salah satu nilai jual destinasi wisatawan lokal dan asing. Berdasarkan catatan Disbudpar Kalsel pada Oktober 2016 terdapat sedikitnya 101 Unit Rumah Adat Banjar, tersebar di seluruh wilayah Kota Banjarmasin, namun Rumah Adat yang berada di Sungai Jingah memiliki kondisi mayoritas masih utuh dan terkumpul serta terkoneksi membentuk kawasan Kampung Tua bersejarah.

“Di Sungai Jingah banyak terdapat rumah-rumah Banjar yang asli masih berdiri kokoh dan masih di huni oleh pemiliknya,” kata Muhammad Rafi, Ketua Pokdarwis Sungai Jingah. Kampung Rumah Banjar Sungai Jingah Banjarmasin diperkirakan mulai dibangun pada pertengahan abad 19 berdasarkan pondasi dan bahan bangunan yang terdiri dari kayu ulin.

Selain itu di kampung ini juga terdapat makam Syekh Jamaluddin, cicit Datu Kalampaian (Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari), atau dikenal kubah Sungai Jingah atau Makam Datu Surgi Mufti Jamaludin.

Kampung Rumah Banjar Sungai Jingah ini terdiri dari deretan rumah asli Banjar yang menyisir jalan Sungai Jingah sepanjang 2 KM dan bersisiran dengan Sungai Martapura2018 di kampung tua Sungai Jingah.

Dahulu di kawasan ini terdapat beberapa saudagar kaya, salah satunya adalah H. Muhammad Said Nafis. Rumah beliau di Sungai Jingah terletak di dekat Kubah Surgi Mufti, tepatnya di arah sisi barat kubah tersebut. Namun sayangnya, salah satu rumah beliau berarsitektur Eropa sudah dirobohkan oleh ahli warisnya. Selebihnya rumah-rumah para kadi dan rakyat biasa. Arsitektur rumah Banjar dominan bernama Rumah Banjar Baanjung Dua, terdapat juga rumah Banjar Bubungan Tinggi, dan beberapa lagi jenis rumah banjar lainnya.

Tidak jauh dari daratan Borneo, Di negeri Malaka terdapat satu lokasi objek wisata sejenis dengan Sungai Jingah, namun yang membedakannya adalah kondisi disana jauh lebih baik, dimana pengelolaan dan publikasinya sudah sangatlah baik serta sudah dapat menembus pasar luar negeri sehingga banyak pelancong berdatangan kesana.

Kawasan Sungai Jingah ini memiliki potensi dan dapat menjadi sumber pemasukan baru bagi pemerintah asalkan dapat dikelola dan dikembangkan lebih baik lagi. Pada 2018, ketika acara Aksi Sapta Pesona yang digagas oleh Dinas Pariwasata Kalsel dengan tema “Save Bekantan, Save Sungai Jingah”,  Gubernur Kalimantan Selatan dengan jelas mengatakan bahwa kawasan ini akan dijadikan destinasi wisata. Selain kampung tua, disini juga terdapat banyak kebudayaan lama yang masih terjaga dan patut dilestarikan, berupa makanan khas, kain sasirangan khas kampung tua Sungai Jingah dan aneka budaya lainnya. Potensi yang ada ini diharapkan dapat mengurangi peran tambang batubara sebagai penggerak ekonomi dikarenakan emas hitam yang berasal dari fosil lambat laun akan habis.

Kondisi di Kampung Banjar Sungai Jingah(Sumber : jejakrekam.com)

Lokasi yang begitu strategis serta kawasan lingkungan per kampungan yang masih terjaga menjadikan Kawasan Sungai Jingah memiliki keistimewaan sendiri dan akan sangat berpotensi apabila dapat dikembangkan sebagai kamping budaya sekaligus sebagai pelestarian budaya agar kelak kebudayaan yang ada di Kawasan Sungai Jingah masih ada dan terus diketahui oleh masyarakat. (MFAH)

 

 

Dafus