Jum’at, 20 November 2020 diselenggarakan acara seminar perencanaan pembangunan desa dengan tema “Profil dan Peta Desa sebagai Bagian dari Perencanaan Pembangunan Desa”, bertempat di Grand Wahid Hotel Salatiga.

Seminar ini diselenggarakan oleh Yayasan Trukajaya Salatiga yang ditujukan bagi desa binaannya di wilayah Kabupaten Semarang, dengan mengundang pemateri dari HRC Caritra. Seminar perencanaan pembangunan desa dihadiri oleh Kepala Desa dari 3 Desa di Kabupaten Semarang yaitu Kepala Desa Kaliwungu, Kepala Desa Rogomulyo, dan Kepala Desa Mukiran.

Jalannya Seminar

Diawali dengan sambutan dari Direktur Yayasan Trukajaya, yang menyampaikan bahwa seminar ini merupakan rangkaian kegiatan pendampingan yang sebelumnya sudah dilaksanakan di 3 desa, harapannya materi yang disampaikan akan mampu mendorong masyarakat desa untuk dapat menyusun profil desa yang informatif dan mampu mendukung pembangunan desa.

Materi seminar yang berjudul “Profil Desa dalam Perencanaan Pembangunan Desa” disampaikan oleh narasumber dari HRC Caritra yaitu Endah Dwi Fardhani, S.T. Diawali dengan penyampaian materi terkait penentuan perencanaan desa bisa dilakukan dengan dua pilihan metode, untuk pilihan yang pertama adalah melakukan penyelesaian masalah yang ada di desa dan pilihan kedua yaitu melakukan perencanaan pembangunan desa. Dua metode ini dapat diterapkan sesuai kesepakatan masyarakat desa dengan melihat potensi yang ada di desa. Beberapa potensi yang ada di desa menjadi salah satu alternatif dimunculkannya branding dari desa tersebut, seperti Desa Mukiran yang terkenal dengan olahan apem, Desa Rogomulyo yang terkenal dengan berbagai macam olahan bambu anyam, dan Desa Kaliwungu yang memiliki sumber air melimpah.

Selain branding desa, penyusunan profil desa juga berisi regulasi desa yang bertujuan sebagai pedoman dan dasar hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan desa. Data yang dibutuhkan untuk perencanaan profil desa adalah data regulasi, kondisi geografis, sarana prasarana, kelembagaan, kependudukan, perumahan, nilai lokal, ekonomi dan produksi, serta permasalahan utama desa. Kebutuhan data tersebut kemudian dituangkan dalam pemetaan sesuai kondisi desa yaitu pemetaan aset desa dan pemetaan lembaga yang melibatkan berbagai pihak untuk penggalian opini dan aspirasi masyarakat. Profil desa yang akurat, akan memudahkan desa dalam menyusun dokumen perencanaan pembangunan desa secara berkelanjutan.

Sesi penyampaian materi langsung disambung dengan sesi diskusi. Sesi diskusi dibuka dengan pertanyaan pertama, dimulai dari perwakilan Desa Kaliwungu yaitu Sutrisno dari BPD Rogomulyo yang menanyakan bahwa sekarang kearifan lokal sudah mulai hilang seiring berkembangnya jaman, dibuktikan dengan kesenian Jawa yang luntur dan pengrajin anyaman bambu yang semakin hari semakin berkurang. Apakah kearifan lokal tersebut bisa dikembalikan? Jika bisa, dengan cara bagaimana?

Endah Dwi Fardhani setuju dengan pernyataan Sutrisno, bahwa kearifan lokal pada saat ini mulai hilang, namun beliau memberikan salah satu contoh yaitu Komunitas Heritage Budaya di Gombong, Kabupaten Kebumen yang merubah makam menjadi sebuah situs sejarah dan dikemas secara cantik dan menarik. Hal yang pertama dilakukan adalah mencari data cerita dengan menggali potensi sejarahnya, kemudian dikumpulkan dan dikemas sesuai dengan cerita perubahan masyarakatnya. Selanjutnya kaderisasi budaya pada level desa, dengan membangkitkan seni budaya khas lokal melalui festival budaya desa, sehingga dusun-dusun ikut bergerak untuk ‘nguri-uri’ budaya desa.

Diskusi ini ditambahi oleh Haris Firman dari HRC Caritra Jawa Tengah,  bahwa yang menjadi tantangan saat ini adalah cara merubah iklim sosial budaya kembali ke kearifan lokal, dimana sebenarnya pengrajin anyaman bambu berkurang karena kebutuhan ekspor yang tidak dapat terpenuhi sehingga desa harus meningkatkan akses dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum terealisasikan hingga saat ini.

Pertanyaan kedua datang dari Soni Kepala Desa Mukiran, dimana Desa Mukiran pernah mendapatkan dana desa namun segala pengeluarannya belum terinci. Dana tersebut belum bisa dimanfaatkan untuk pengembangan desa karena selalu habis digunakan untuk kebutuhan rutin desa. Apakah disetiap desa butuh pendampingan supaya desa dapat berkembang?

Jawaban sekaligus penutup diskusi dari Endah Dwi Fardhani, yaitu desa harus memiliki fokus dan prioritas program dalam pengembangan desa, sehingga dana bisa digunakan sesuai dengan rencana anggaran yang diperuntukan khusus untuk pengembangan desa. Jika program pengembangan desa tidak ada atau bahkan hilang, maka keberlanjutan perencanaan desa membutuhkan upaya yang luar biasa dari masyarakat desa untuk begerak bersama dalam mewujudkannya. (SUF)

 

“Harapan saya, semoga dengan adanya pendampingan desa, Desa Kaliwungu dapat berkembang sesuai dengan RPJMDes” – Budi Bawono Kepala Desa Kaliwungu.