Kotagede punya banyak cara untuk bercerita tentang masa lalunya, salah satunya lewat makanan.
Selama tiga hari, 25–27 September 2026, pelataran Masjid Gedhe Mataram di Jagalan, Banguntapan, Bantul kembali ramai oleh Pasar Lawas Mataram. Beragam jajanan tradisional, pakaian Jawa, permainan tempo dulu, hingga pertunjukan seni menghadirkan kembali suasana masa lalu di tengah kawasan bersejarah Kotagede. (Pemerintah Kabupaten Bantul, 2026; Jogja 24 Jam, 2026)
Tahun ini, Pasar Lawas Mataram digelar dengan tema “Momong, Momor, Momot”, yang menggambarkan semangat merawat dan membimbing tradisi (momong), membaur serta beradaptasi dengan masyarakat dan perkembangan zaman (momor), serta bersikap terbuka dalam menerima keragaman dan perubahan tanpa kehilangan jati diri budaya (momot). Penyelenggaraan tahun ini merupakan gelaran yang ketujuh dan resmi dibuka pada Jumat, 25 September 2026, di pelataran Masjid Gedhe Mataram.

Opening Ceremony Pasar Lawas Mataram. Sumber: Instagram Pasar Lawas Mataram
Namun, dibalik keramaian pengunjung dan suasana tempo dulu, ada bagian yang tidak kalah menarik yaitu deretan tenant yang memenuhi pelataran Masjid Kotagede Mataram.
Terdapat sekitar 51 tenant yang berjualan pada Pasar Lawas Mataram 2026. Berbeda dengan bazar pada umumnya, kesempatan menjadi tenant tahun ini dikhususkan bagi warga Jagalan.
Informasi mengenai pendaftaran disebarkan melalui akun instagram Pasar Lawas Mataram. Dari sana, warga mengetahui adanya open tenant dan kemudian mengikuti proses pendaftaran serta koordinasi dengan penyelenggara sebelum akhirnya membuka lapak pada hari pelaksanaan.
Sistem tersebut memperlihatkan bagaimana informasi tentang pasar disebarkan melalui media sosial, tetapi pengalaman yang ditawarkan justru membawa pengunjung kembali pada suasana masa lalu. Teknologi menjadi pintu masuk menuju makanan, tradisi, dan pengalaman yang lekat dengan Kotagede.

Daftar Tenant Pasar Lawas Mataram. Sumber: Instagram Pasar Lawas Mataram
Kuliner menjadi salah satu daya tarik utama Pasar Lawas Mataram. Berbagai makanan yang dijajakan memiliki keterkaitan dengan tradisi kuliner Kotagede dan budaya Jawa.
Pemerintah Kalurahan Jagalan mencatat sejumlah kuliner yang hadir dalam kegiatan tahun ini, antara lain apem, jadah, wajik, geplak, cenil, gatot, tiwul, wedang uwuh, jamu gendong, dan dawet. Pemerintah Kabupaten Bantul juga menyoroti kuliner tradisional seperti cenil, kimpul, sebagai bagian dari makanan masa lalu yang penting dikenalkan kembali kepada generasi muda (Pemerintah Kalurahan Jagalan, 2026; Pemerintah Kabupaten Bantul, 2026).
Dari kunjungan penulis, beberapa makanan yang ditemukan antara lain sego pondok, kipo, dan tolpit. Kehadiran makanan-makanan tersebut membuat pasar bukan sekadar tempat membeli makanan, tetapi juga ruang bagi pengunjung untuk menemukan kembali rasa yang mungkin semakin jarang ditemui sehari-hari.
Di titik ini, angka 24 tenant menjadi lebih bermakna. Dua puluh empat lapak berarti ada puluhan pelaku lokal yang secara langsung terlibat membawa resep, produk, dan cerita kuliner mereka kepada pengunjung.
“Kalau Pasar Lawas ini, kami bisa kembali mengenalkan makanan-makanan tradisional yang sekarang sudah mulai jarang ditemukan,” ujar pedagang sego pondok, sembari mengenalkan salah satu makanan tradisional khas Kotagede. (Wawancara Lapangan, 2026)
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan pedagang tidak sekadar melengkapi suasana acara. Bagi mereka, Pasar Lawas Mataram juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali makanan tradisional yang mulai jarang dikenal.
Menariknya, pedagang dalam Pasar Lawas Mataram tidak sekadar menjadi pelengkap acara. Pembatasan tenant bagi warga Jagalan menunjukkan adanya upaya untuk menjaga manfaat kegiatan tetap dekat dengan masyarakat sekitar.
Pasar Lawas Mataram mulai dirintis melalui kolaborasi sejumlah tokoh dan masyarakat Jagalan. Salah satunya adalah Gono Santosa, Lurah Jagalan periode 2016–2023, yang disebut sebagai salah satu pendiri Pasar Lawas Mataram, bersama Takmir Masjid Gedhe Mataram dan masyarakat Kotagede. Kegiatan ini kemudian berkembang sebagai ruang pemberdayaan UMKM sekaligus media pengenalan kuliner dan budaya kepada generasi muda (Pemerintah Kalurahan Jagalan, 2026).
Karena itu, aktivitas jual beli di Pasar Lawas Mataram dapat dibaca dalam tiga aspek sekaligus, yakni ruang ekonomi bagi warga, ruang promosi bagi kuliner tradisional, serta ruang pertemuan antara masyarakat dan budaya Kotagede.
Pasar Lawas Mataram memang menawarkan pengalaman nostalgia. Pedagang mengenakan pakaian Jawa, makanan tradisional berjajar di lapak, sementara berbagai pertunjukan seperti karawitan, macapat, hadrah, dan berbagai macam tarian turut meramaikan kegiatan. Namun di balik suasana tersebut, terdapat mekanisme yang sangat masa kini, terutama dalam penyebaran informasi melalui instagram, sehingga kegiatan tersebut dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Dari sinilah Pasar Lawas Mataram menjadi menarik, yang lama tidak sekadar dipajang, tetapi kembali digunakan, dijual, dicicipi, dan diperkenalkan kepada pengunjung.
Pasar ini memang hanya hadir sekali dalam setahun. Namun selama tiga hari, 24 lapak pedagang lokal menunjukkan bagaimana sebuah kegiatan budaya dapat membuka ruang bagi ekonomi warga sekaligus membuat kuliner lama kembali punya tempat di tengah kehidupan sekarang.
Penulis: Ridha Aqeela, Manik Pramdani
Editor: Mahditia Paramita
Referensi
Pemerintah Kabupaten Bantul, 2026. Suasana Tempo Dulu Kembali Hadir di Pasar Lawas Mataram 2026. [Online]. Website Pemerintah Kabupaten Bantul. https://bantulkab.go.id/berita/detail/7635/suasana-tempo-dulu-kembali-hadir-di-pasar-lawas-mataram-2026.html (Diakses pada 28 September 2026).
Pemerintah Kalurahan Jagalan, 2026. Pasar Lawas Mataram Tahun 2026. [Online]. Website Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul. https://jagalan.bantulkab.go.id/first/artikel/561-Pasar-Lawas-Mataram-Tahun-2026- (Diakses pada 28 september 2026).
Media Sosial Pasar Lawas Mataram, 2026. Informasi Tenant dan Publikasi Pasar Lawas Mataram 2026. [Online]. Instagram Pasar Lawas Mataram. (Diakses pada 6 Oktober 2026).
Observasi Lapangan, 2026. Observasi Kegiatan Pasar Lawas Mataram 2026. Pelataran Masjid Gedhe Mataram, Jagalan, Banguntapan, Bantul, 26 September 2026.
Wawancara Lapangan, 2026. Wawancara dengan Pedagang Sego Pondok pada Pasar Lawas Mataram 2026. Jagalan, Banguntapan, Bantul, 26 September 2026.