25–27 September 2026 menjadi waktu digelarnya Pasar Lawas Mataram Kotagede 2026, sebuah event yang dilaksanakan satu tahun sekali, dan pada tahun 2026 telah memasuki penyelenggaraan yang ke-7. Kegiatan ini berlangsung dari pagi hingga malam hari dengan mengusung tema “Momong, Momor, Momot”, yang mencerminkan semangat keterbukaan dan kebersamaan. Acara budaya dan kuliner tradisional ini mengajak para pengunjung yang disapa “Konco Lawas” untuk bernostalgia melalui berbagai makanan tradisional yang hadir selama acara.
Di lokasi acara, pengunjung dapat menemukan banyak pilihan makanan tradisional yang ditawarkan oleh para tenant. Beragam kuliner tersebut menjadi bagian dari suasana Pasar Lawas Mataram Kotagede dan membuat pengunjung memiliki kesempatan untuk mencoba makanan yang tidak selalu mudah ditemukan dalam keseharian. Selain kuliner ada berbagai kegiatan seperti tarian tradisional, dan berbagai macam lainnya.
Di antara berbagai kuliner yang hadir, beberapa makanan yang bisa dicoba yaitu roti kembang waru, legomoro, kipo, dan jenang gempol. Selain makanan tersebut, terdapat pula berbagai tenant yang menawarkan kuliner lainnya, seperti kupat docang, ketan bubuk, mides, jenang gempol, clorot, geblek, lepet, carang gesing, sego megono, cucur, jenang suran, sate kere, sego gurih, terang bulan, gulai ayam, gompo, legomoro, dawet camcao, sego liwet, mie lethek, jenang angkrang, sego berkat, surjan, dan panti pijat.
Yang berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini pengunjung dapat membeli keranjang bambu (kreneng) apabila ingin berbelanja dalam jumlah yang banyak, yang dianyam langsung di salah tenant Pasar Lawas Mataram. Kreneng merupakan bentuk kampanye konsep belanja ramah lingkungan untuk mewujudkan zero waste Pasar Lawas Mataram 2026.

Beragam Cerita di Balik Kuliner yang Hadir

Roti kembang waru, jenang gempol, kipo, dan legomoro | Sumber: Dokumentasi Penulis
- Kembang waru
Salah satu makanan yang ditemukan dalam kunjungan kali ini adalah kembang waru. Penjualnya, Bapak Wahyu baru satu kali mengikuti event Pasar Lawas Mataram Kotagede ini. Informasi mengenai acara Pasar Lawas Mataram di Kotagede diperoleh dari panitia dan penyelenggara. Selain berjualan dalam acara, Bapak Wahyu juga biasa berjualan di kampung sendiri dan menerima open order apabila ada orang yang ingin membeli.

Bapak Wahyu saat menyiapkan Roti Kembang Waru di stannya. | Sumber: Dokumentasi Penulis
Kembang waru sendiri dibuat menggunakan tepung, telur, dan gula, dimasak menggunakan pemanggang, kemudian diolesi dengan margarin. Kehadirannya di Pasar Lawas Mataram menjadi salah satu pilihan makanan tradisional yang dapat dicoba oleh para pengunjung selama acara berlangsung.
- Legomoro
Kuliner lainnya adalah legomoro, yang memiliki pola penjualan berbeda. Penjual legomoro yang ditemui telah mengikuti acara ini sebanyak empat kali. Sama seperti penjual kembang waru, penjual legomoro mengetahui informasi acara dari penyelenggara acara Pasar Lawas Mataram, legomoro tidak dijual secara bebas setiap saat. Makanan ini diproduksi ketika ada pesanan, untuk hajatan, maupun hantaran pernikahan. Bentuknya menyerupai lemper dengan bahan utama beras ketan dan santan, sedangkan isiannya menggunakan ayam, legomoro kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan diikat. Bagi yang ingin membeli, dan menikmat makanan ini di luar acara besar atau acara lainnya dapat dipesan terlebih dahulu.
- Kipo
Sementara itu, terdapat kipo, makanan khas Kotagede yang menurut penjualnya hanya dijual di Kotagede saja. Kipo dibuat dari tepung ketan diberi pewarna hijau dengan isian berupa parutan kelapa yang dicampur gula jawa. Setelah itu, kipo dibakar dengan alas memakai daun pisang. Nama kipo sendiri memiliki asal usul dari ungkapan “iki opo” yang berarti “ini apa” dan kemudian disingkat menjadi kipo sehingga terbentuklah nama makanan tersebut. Dari penjelasan penjual, kipo juga kurang cocok dijadikan oleh-oleh karena tidak dapat bertahan hingga 24 jam.
- Jenang Gempol
Makanan berikutnya yang dapat ditemukan adalah jenang gempol. Merupakan makanan tradisional berbahan dasar tepung beras yang terdiri dari bubur sumsum coklat dan adonan beras yang dibentuk menjadi bulatan putih, kemudian disajikan dengan kuah santan. Perpaduan rasanya gurih dan manis, dengan bahan berupa tepung beras, gula merah, dan santan. Penjual jenang gempol yang ditemui memperoleh informasi mengenai acara dari penyelenggara, untuk datang berjualan dalam acara tersebut.
Kuliner yang Tidak Selalu Ditemukan Setiap Hari
Selama berlangsungnya acara pada 25–27 September 2026, Pasar Lawas Mataram Kotagede menghadirkan banyak makanan yang dapat dinikmati pengunjung sejak pagi hingga malam hari. Beragam pilihan tersebut memperlihatkan bahwa acara ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai makanan tradisional dalam satu kegiatan.
Menariknya, beberapa makanan yang hadir memiliki keberadaan yang cukup terbatas. Ada makanan yang hanya dibuat ketika mendapatkan pesanan, seperti legomoro yang diproduksi untuk pesanan, hajatan, dan hantaran pernikahan. Ada pula kipo yang menurut penjualnya hanya dijual di Kotagede. Hal tersebut membuat pengalaman mengunjungi Pasar Lawas Mataram Kotagede tidak hanya berkaitan dengan menikmati makanan, tetapi juga menemukan berbagai kuliner tradisional yang keberadaannya dapat berbeda dari makanan yang biasa dijumpai sehari-hari.
Penutup
Pasar Lawas Mataram Kotagede tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati makanan, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan kembali kuliner tradisional yang keberadaannya tidak selalu terlihat dalam keseharian. Kembang waru, legomoro, kipo, dan jenang gempol menunjukkan bahwa di balik satu perhelatan terdapat makanan dengan cara penjualan, bahan, cerita, dan karakter yang berbeda-beda.
Kehadiran kuliner tersebut dalam suasana Pasar Lawas Mataram membuat makanan tradisional dapat kembali ditemui dan dicoba secara langsung oleh pengunjung. Di sinilah pengalaman bernostalgia yang diusung melalui tema “Momong, Momor, Momot” terasa tidak hanya melalui suasana acara, tetapi juga melalui makanan-makanan yang hadir di dalamnya. Dengan begitu, kunjungan ke Pasar Lawas Mataram menjadi pengalaman untuk kembali mengenal berbagai kuliner tradisional yang mungkin tidak ditemui setiap hari.
Penulis: Siti Keisya Audhieya Adyanti, Manik Pramdhani
Editor: Mahditia Paramita