Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerawanan bencana ketiga tertinggi di dunia, karena wilayahnya yang berada dalam kondisi geologis, geografis, dan iklim yang kompleks. Banyak desa wisata tumbuh di kawasan yang pada saat yang sama menjadi zona berisiko, seperti lereng pegunungan, pesisir, dan daerah sekitar gunung api aktif. Data nasional menunjukkan bahwa pada tahun 2025 tercatat sekitar 3.233 kejadian bencana alam di Indonesia, mulai dari banjir, longsor, gempa bumi, hingga tsunami. Angka ini menegaskan bahwa pengembangan desa wisata, terutama di daerah rawan bencana, tidak dapat dipisahkan dari upaya mitigasi risiko yang sistematis dan terukur.

Di Kabupaten Gunungkidul, karakteristik kerawanan bencana tercermin pada kombinasi ancaman gempa bumi, longsor tebing karst, hingga kekeringan yang berulang hampir setiap musim kemarau. Selain di Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Sleman memiliki desa-desa wisata yang berada di sekitar kawasan Gunung Merapi, berhadapan langsung dengan potensi erupsi, awan panas, dan banjir lahar dingin yang dapat muncul sewaktu-waktu. Gunung Merapi sendiri merupakan salah satu gunung api teraktif di dunia dengan siklus erupsi yang relatif sering, sehingga aktivitas wisata vulkanik di sekelilingnya selalu membawa dimensi risiko tambahan. Tanpa perencanaan kebencanaan yang matang, desa wisata di kawasan tersebut berisiko mengalami kerugian besar ketika bencana terjadi, baik dalam bentuk korban jiwa, kerusakan infrastruktur wisata, maupun lumpuhnya kegiatan ekonomi lokal.

Bagi desa wisata, dampak bencana tidak berhenti pada rusaknya fasilitas fisik seperti homestay, jalur trekking, dan sarana penunjang wisata. Bencana juga memicu penurunan kunjungan wisatawan yang signifikan, terutama pada periode pascabencana ketika persepsi risiko di mata wisatawan masih tinggi. Studi di beberapa desa wisata rawan bencana menunjukkan bahwa setelah kejadian ekstrem, jumlah kunjungan dapat turun lebih dari 50% selama beberapa bulan, bahkan dalam kasus tertentu dampaknya terasa hingga satu tahun. Penurunan ini langsung berimbas pada pendapatan warga yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata, menghambat program-program pemberdayaan masyarakat, dan memperlambat perputaran ekonomi lokal yang sebelumnya mulai tumbuh.

Dalam konteks tersebut, mitigasi risiko bencana harus ditempatkan sebagai bagian inti dari desain dan perencanaan desa wisata, bukan sekadar pelengkap teknis. Mitigasi tidak cukup hanya berupa penyediaan jalur evakuasi atau papan penunjuk arah darurat, tetapi perlu mencakup pemetaan risiko yang detail, penyusunan prosedur tetap (SOP) kedaruratan, pelatihan berkala bagi warga dan pelaku wisata, serta program edukasi bagi wisatawan terkait perilaku aman ketika berada di zona risiko. Pendekatan berbasis masyarakat terbukti efektif dalam sejumlah program Desa Tangguh Bencana, karena warga lokal memiliki pengetahuan mendalam tentang karakter ancaman di wilayahnya. Melalui pemahaman tersebut, komunitas desa lebih mampu merancang sistem peringatan dini sederhana yang bisa dioperasikan secara mandiri, sekaligus menyusun rute evakuasi yang realistis berdasarkan kondisi medan dan keterbatasan sumber daya lokal.

Di desa wisata di wilayah Kabupaten Gunungkidul dan kawasan Gunung Merapi Kabupaten Sleman, desain mitigasi berbasis komunitas dapat diwujudkan melalui pembentukan relawan desa, integrasi informasi kebencanaan dalam paket wisata, hingga simulasi evakuasi berkala yang melibatkan warga, pelaku usaha, dan pemandu wisata. Penyesuaian tata ruang desa wisata juga menjadi bagian penting, misalnya dengan menghindari pembangunan fasilitas wisata permanen di zona yang paling berbahaya seperti jalur aliran lahar, tebing rawan longsor, atau area yang berada tepat di sempadan sungai banjir. Di tingkat kelembagaan, desa wisata perlu menjalin kerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dinas pariwisata, dan lembaga teknis untuk melakukan audit berkala terhadap kesiapsiagaan, menguji efektivitas SOP, serta menutup celah pengawasan yang masih terjadi.

Mitigasi risiko bencana bukan hanya kewajiban normatif, tetapi dapat dikembangkan sebagai nilai jual tambahan bagi desa wisata yang ingin memposisikan diri sebagai destinasi aman dan berkelanjutan. Tren pariwisata global menunjukkan bahwa wisatawan semakin mempertimbangkan aspek keamanan, keberlanjutan lingkungan, dan tanggung jawab sosial ketika memilih destinasi. Desa wisata yang mampu menunjukkan kesiapan melalui keberadaan papan informasi jalur evakuasi, pemandu wisata yang terlatih dalam prosedur kedaruratan, dan komunikasi risiko yang jelas cenderung lebih dipercaya oleh pasar. Dengan demikian, mitigasi dapat diposisikan sebagai strategi branding yang memperkuat citra desa wisata, sekaligus sebagai instrumen untuk menjaga keberlanjutan pariwisata desa dan melindungi kehidupan masyarakat yang terlibat.

Pada akhirnya, desa wisata yang siap bencana adalah desa yang menjadikan keselamatan dan ketangguhan sebagai fondasi utama pengembangan pariwisata. Di tengah tingginya frekuensi bencana di Indonesia, mengabaikan mitigasi risiko berarti mempertaruhkan masa depan ekonomi dan sosial desa wisata yang rentan. Sebaliknya, menjadikan mitigasi sebagai prioritas akan membantu desa wisata tumbuh sebagai destinasi yang bukan hanya indah dan menarik, tetapi juga aman dan tangguh dalam menghadapi kejadian ekstrem yang hampir pasti akan berulang di masa depan.

 

Penulis: Fadhila Tsalitsa Damayanti, Fasiha Putri Untsa

Editor: Mahditia Paramita

 

 

Referensi:

Ahsan, A. M. (2024). Desain Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat dalam Meningkatkan Desa Wisata Aman Bencana di Kabupaten Gunungkidul.

Amir, N. A. (2026, 6 8). Bangkep Tingkatkan Kapasitas Masyarakat dalam Mitigasi Bencana. AntaraSulteng. https://sulteng.antaranews.com/berita/385025/bangkep-tingkatkan-kapasitas-masyarakat-dalam-mitigasi-bencana

Banestota, H. P. (2025, 3 24). Manajemen Risiko Di Desa Wisata Les: Menjaga Keindahan di Tengah Bencana Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Manajemen Risiko Di Desa Wisata Les: Menjaga Keindahan di Tengah Bencana”, Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/horasipa. kompasiana. https://www.kompasiana.com/horasiparadabanestota5528/67e164deed64154e8c7e3982/manajemen-risiko-di-desa-wisata-les-menjaga-keindahan-di-tengah-bencana

Pribudi, A., & Sugiarto, E. (2025). Ketahanan Masyakarat untuk Manajemen Risiko Bencana: Studi Kasus di Tiga Desa Wisata Rawan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta. Journal of Indonesian Rural and Regional Government, 9(1), 90-1.6. https://doi.org/10.47431/jirreg.v9i1.660