Kotagede berada di bagian selatan Kota Yogyakarta dan memiliki karakter wilayah yang unik. Secara administratif, kawasan ini terbagi menjadi dua wilayah pemerintahan, yakni Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Kelurahan Prenggan dan Purbayan termasuk dalam wilayah Kota Yogyakarta, sedangkan Kalurahan Jagalan dan Singosaren berada dalam wilayah Kabupaten Bantul. Di bagian utara, timur, dan selatan, Kotagede berbatasan dengan Kabupaten Bantul, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan wilayah Umbulharjo, Yogyakarta.

Lebih dari sekadar kawasan permukiman, Kotagede memiliki nilai sejarah yang kuat sebagai salah satunya adalah peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri sejak tahun 1532 M. Pada masa lalu, kawasan ini berkembang sebagai ibukota Kerajaan Mataram di masa pemerintahan Ki Ageng Pemanahan dan putranya, Panembahan Senopati. Jejak sejarah tersebut hingga kini masih menjadi bagian penting dari karakter dan identitas Kotagede.

 

Keunikan Kotagede juga terlihat dari pola ruang dan toponim kawasan kotanya. Kotagede kuno dibangun dengan mengacu pada konsep Catur Gatra Tunggal, yaitu konsep tata kota yang umumnya ditemukan pada kota yang memiliki keraton. Konsep ini memperlihatkan keterkaitan berbagai elemen utama kota dalam membentuk satu kesatuan ruang. Kesatuan tersebut tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga mencerminkan kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan masyarakat pada masanya.

 

Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Masjid Gedhe Mataram bagian dari komplek bersejarah yang terhubung langsung dengan makam para raja dan tokoh awal Mataram Islam. Letaknya yang berdekatan dengan pasar, makam, dan elemen ruang kota lainnya menunjukkan bahwa masjid sejak awal tidak berdiri sebagai bangunan terpisah, melainkan menjadi bagian dari struktur ruang Kotagede.

Saka Guru Terbuat dari Kayu

Saka Guru Terbuat dari Kayu
Sumber:mediakit.lv.com

Secara arsitektural, masjid ini masih memperlihatkan karakter kuat arsitektur tradisional Jawa yang berpadu dengan unsur Islam. Bangunan utamanya berbentuk dasar persegi atau bujur sangkar dan ditopang empat saka guru dari kayu. Keempat saka guru tersebut berdimensi sekitar 0,3 × 0,3 m² dengan tinggi 5 m, dan menopang struktur atap tajug. Atap utama masjid berbentuk tajug tumpang tiga, yaitu susunan atap bertingkat yang semakin mengecil ke arah puncak. Bentuk ini menjadi salah satu ciri visual yang paling mudah dikenali dari masjid tradisional Jawa.

 

Keunikan masjid juga terlihat dari material dan elemen bangunannya. Dinding ruang utama menggunakan balok-balok batu putih, sedangkan struktur bagian dalam didominasi kayu. Pada ruang utama terdapat mihrab di sisi barat dan mimbar kayu berukir. Di bagian luar terdapat serambi, pawestren sebagai ruang bagi perempuan, serta jagang atau parit yang mengelilingi sebagian sisi kompleks masjid. Unsur-unsur ini menunjukkan bahwa Masjid Mataram tidak hanya mempertahankan fungsi ibadah, tetapi juga menyimpan karakter arsitektur Jawa yang berkembang dalam konteks masyarakat Mataram Islam.

 

Makam Raja Mataram Kota Gede

Di belakang atau di bagian yang terhubung dengan komplek masjid terdapat Komplek Makam Raja-Raja Mataram, yang dikenal sebagai Pasarean Agung Kotagede. Ini menjadi tempat pemakaman sejumlah tokoh penting Mataram, termasuk Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, beserta beberapa keluarga dan tokoh kerajaan lainnya. Susunan ruang makam memiliki pola tertentu, baik secara horizontal maupun vertikal. Karena itu, makam tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan nisan, tetapi sebagai ruang yang memiliki struktur dan hierarki tersendiri. Karakter ruang makam semakin terasa melalui keberadaan gapura, kelir, dan pagar yang membatasi sekaligus menghubungkan setiap bagian.

  1. Gapura Paduraksa

Paduraksa adalah bangunan berbentuk gapura yang memiliki atap penutup dengan hiasan kala (ornamen berbentuk wajah raksasa, −kepala menyeramkan dengan mata melotot, taring, dan tanpa rahang bawah) di bagian atasnya, serta hiasan pada tembok di sekitarnya. Ornamen ini serupa dengan ornamen dekoratif yang banyak dijumpai pada bangunan candi kuno bergaya Hindu.

Gapura Paduraksa biasa digunakan sebagai gerbang masuk keraton, makam keramat, pura, dan puri. Gapura ini membatasi ruang madya mandala (njobo njero) dengan area utama mandala (njero) yang lebih sakral. Bentuknya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan kaki, yang menunjukkan pola sama dengan arsitektur candi Hindu-Buddha.

 

 

  1. Kelir
Kelir

Kelir
Sumber:mediakit.lv.com

 

Kelir (aling-aling atau wrana) merupakan elemen pembatas visual sekaligus pengarah alur sirkulasi. Elemen ini terletak di belakang gapura dan umumnya terbuat dari batu bata. Dalam arsitektur, kelir hadir sebagai dinding kamuflase yang menutupi pandangan langsung ke ruang utama, sehingga seseorang harus berbelok untuk melanjutkan langkahnya. Pola sirkulasi yang berbelok ini memiliki makna simbolik sebagai upaya “meredam niat buruk” dan menggambarkan bahwa hati serta maksud seseorang tidak mudah ditebak.

 

  1. Pager

Dalam Masjid dan Makam Raja Mataram Kotagede, pager (pagar) berfungsi penting sebagai pembentuk batas ruang dan penanda hierarki kesakralan. Secara struktural, pager dibedakan menjadi dua jenis. Pager Njero berfungsi sebagai pembatas antarkawasan di dalam komplek, yang mengatur hubungan spasial antara ruang sakral dan profan. Pager Njobo merupakan batas terluar yang memisahkan kawasan suci dengan lingkungan luar, sekaligus berperan sebagai elemen protektif dan simbolik terhadap kesucian kawasan.

Berdasarkan materialnya, pagar juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu batu putih dan bata merah. Pagar batu putih yang mengelilingi area makam melambangkan kesucian dan keabadian. Sementara itu, pagar bata merah di sekitar masjid mencerminkan karakter komunal dan kesederhanaan yang sejalan dengan fungsi masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat.

Hubungan Masjid dan Makam Mataram

Masjid Gedhe Mataram dan Kompleks Makam Raja Mataram pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dalam membaca sejarah dan ruang Kotagede. Keduanya berada dalam satu kawasan dan memiliki hubungan erat dengan perkembangan Kotagede sebagai pusat Kerajaan Mataram Islam. Masjid berfungsi sebagai ruang ibadah dan kehidupan keagamaan, sedangkan komplek makam menjadi ruang penghormatan terhadap tokoh-tokoh penting kerajaan, termasuk Panembahan Senopati. Kedekatan kedua ruang ini memperlihatkan fungsi keagamaan dan penghormatan terhadap leluhur ditempatkan dalam satu kesatuan kawasan.

 

Aktivitas Masyarakat yang Menghidupkan Landmark

Masjid Gedhe Mataram dan Makam Raja Mataram penting bukan hanya karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena keduanya masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kotagede hingga kini. Aktivitas ibadah, ziarah, perdagangan, hingga kegiatan budaya berlangsung di sekitar kawasan tersebut dan membuat ruang bersejarah tetap berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa warisan sejarah Kotagede bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari ruang hidup masyarakat yang terus berkembang.

Salah satu bentuk pemanfaatan ruang tersebut adalah Pasar Lawas Mataram, yang diselenggarakan di kawasan Masjid Gedhe Mataram. Kegiatan ini menghadirkan kuliner tradisional, minuman, dolanan anak, serta berbagai kesenian dan budaya lokal. Pada tahun 2026, Pasar Lawas Mataram digelar pada 25–27 September di Masjid Mataram Kotagede dengan 51 Tenant yang menawarkan makanan, minuman, dan permainan tradisional. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkenalkan potensi budaya sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Pemilihan halaman Masjid Mataram sebagai lokasi Pasar Lawas memperlihatkan hubungan antara landmark sejarah dan aktivitas ekonomi-budaya masyarakat. Masjid yang secara historis menjadi bagian dari struktur Kota Mataram kini juga berfungsi sebagai ruang berkumpul dan berinteraksi. Dalam konteks kawasan, kegiatan ini membuat pengunjung tidak hanya mengenal sejarah masjid dan makam, tetapi juga mengalami budaya Kotagede  melalui makanan tradisional, kesenian, dan aktivitas masyarakat. Dengan demikian, nilai sejarah kawasan hadir melalui pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pasar Lawas Mataram juga memperkuat hubungan antara sejarah Kotagede dan identitas masyarakatnya. Pemerintah Daerah DIY menyebut kegiatan ini sebagai upaya membangun kesadaran bersama masyarakat Jagalan untuk mempertahankan kekayaan kuliner tradisional dan warisan budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi. Hal ini sejalan dengan karakter Kotagede yang sejak masa Mataram telah memiliki keterkaitan antara masjid, pasar, dan aktivitas masyarakat dalam satu struktur ruang kota. Pasar Kotagede sendiri masih menjadi pusat aktivitas ekonomi yang memiliki hubungan historis dengan perkembangan kawasan sejak masa Kerajaan Mataram Islam.

 

Penulis: Alhadi Irsyad, Manik Pramdhani

Editor: Mahditia Paramita

 

Daftar Referensi

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. (n.d.). Lokasi makam kerajaan Mataram Kotagede. Jogja Cagar.

https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/4380/displayrecords-i-nama-warisan

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 2024. Daya aruh Pasar Lawas Mataram untuk kesejahteraan masyarakat. Budaya Jogja. https://budaya.jogjaprov.go.id/berita/detail/1788-pasar-lawasan-mataram

            Konfigurasi spasial gapura paduraksa, kelir, dan pager di kompleks Masjid dan Makam Raja Mataram Kotagede. (n.d.). https://ejournal.uinsaizu.ac.id/index.php/vastutara/article/download/15471/4549

Kusuma, A. 2021. Kajian makna saka guru di Masjid Gedhé Mataram Kotagede Yogyakarta (sebuah tinjauan arsitektur). LINTAS RUANG: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior, 8(2), 1–10.
https://doi.org/10.24821/lintas.v8i2.5198

Kusumawardani, N., & Marcillia, S. R. 2025. Exploring soundscape perception in the historical Catur Gatra Tunggal area, Kotagede, through the soundwalk. Jurnal Planologi, 22(2).

https://doi.org/10.30659/jpsa.v22i2.45986