Pasar Lawas Mataram 2026 kembali digelar di Kotagede, Yogyakarta, pada 25–27 September 2026. Lokasinya berada di halaman Masjid Gedhe Mataram, kawasan bersejarah yang mudah ditemukan pengunjung yang mencari wisata kuliner tempo dulu di Kalurahan Jagalan, Banguntapan, Kabupaten Bantul. Acara tahunan ini tidak hanya menghadirkan kuliner tradisional, tetapi juga permainan, pakaian, dan berbagai seni pertunjukan sebagai bagian dari pengalaman nostalgia masyarakat.

Suasana umum Pasar Lawas Mataram di Halaman masjid Gedhe Mataram
Berdasarkan pemberitaan Radio Republik Indonesia (RRI), 28 September 2026, Pasar Lawas Mataram tahun ini diikuti oleh 51 tenant yang menawarkan beragam makanan berat, jajanan tradisional, hingga makanan manis dengan cita rasa masa lampau. Kehadirannya menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal makanan yang dahulu dekat dengan kehidupan orang tua dan generasi sebelumnya. Namun, pengalaman di Pasar Lawas Mataram tidak berhenti pada kuliner. Berbagai pertunjukan kesenian turut menghidupkan suasana dan mempertemukan tradisi dengan masyarakat masa kini.

Kuliner dan Jajanan Tradisional
Salah satu rangkaian yang menarik berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, penulis hadir di halaman Masjid Gedhe Mataram yang telah dipenuhi berbagai pertunjukan seni mulai sekitar pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Pertunjukan tersebut menampilkan penari dari sekolah, sanggar, hingga kelompok masyarakat, sehingga kesenian yang hadir tidak hanya berasal dari satu kelompok usia saja.
Sore itu, penonton disuguhi Tari Suko dari SD Muhammadiyah Kotagede, Tari Sigrak dari SD Kotagede 1, geguritan dari SDN Baluwarti, serta Tari Gemporo Senatan dari SMP Negeri 9 Yogyakarta. Kehadiran penampil dari tingkat sekolah menunjukkan bahwa pelestarian kesenian juga berlangsung melalui keterlibatan generasi muda. Anak-anak dan remaja tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran sebagai pelaku seni.

Tari Sigrak (kiri) dan tari Gemporo Senatan (kanan)
Pertunjukan kemudian berlanjut dengan Tari Karuna Sangkara dari Sanggar Sekar Kinanti, disusul Tari Piring, Tari Sintren, dan Tari Kijang dari Sanggar Kembang Mataram. Tari Piring, yang berasal dari tradisi Minangkabau, dikenal sebagai tarian yang berkaitan dengan rasa syukur atas hasil panen dan dalam perkembangannya menjadi bagian dari seni pertunjukan. Gerakannya juga merepresentasikan aktivitas kehidupan masyarakat agraris. Sementara itu, Tari Sintren memiliki akar kuat dalam kesenian masyarakat pesisir Jawa dan mengandung berbagai simbol mengenai perjalanan kehidupan manusia.

Tari Karuna Sangkara (kiri) dan tari Sintren (kanan)
Rangkaian pertunjukan dilanjutkan oleh Tari Kreasi Jaipongan dan Tari Sembagi Arutala dari Omah UGM. Tari Sembagi Arutala merupakan tari kreasi baru Jawa yang menggambarkan karakter perempuan yang cantik, berani, tegas, mandiri, dan memiliki cita-cita tinggi. Kehadiran tari kreasi semacam ini memperlihatkan bahwa kesenian tradisional tidak selalu berhenti pada bentuk lama, tetapi dapat dikembangkan menjadi karya baru tanpa kehilangan unsur budaya yang menjadi inspirasinya.
Menjelang malam, penampilan dilanjutkan dengan Tari Grahita Sembrani dari Sanggar Ninong Pertiwi dan ditutup dengan pertunjukan kethoprak “Suminten Edan” yang mengisahkan perempuan gila dikarenakan gagal menikah oleh Paguyuban Bapak-Bapak RT 19. Kethoprak menghadirkan bentuk seni yang berbeda dari tari karena memadukan cerita, dialog, pemeranan, musik, dan unsur tradisi dalam satu pertunjukan. Keterlibatan kelompok masyarakat juga memperlihatkan bahwa kesenian di Pasar Lawas Mataram tidak hanya dipertahankan oleh sanggar atau institusi pendidikan, tetapi turut hidup melalui komunitas warga.

Tari Sembagi Arutala (kiri) dan tari Grahita (kanan)
Selama kurang lebih lima jam, berbagai pertunjukan tersebut membuat halaman Masjid Gedhe Mataram tidak hanya menjadi tempat menikmati kuliner, tetapi juga ruang bertemunya generasi, komunitas, dan berbagai bentuk kesenian. Setiap penampilan membawa karakter dan cerita yang berbeda, mulai dari tari tradisional, tari kreasi, hingga kethoprak.
Pada akhirnya, kesenian menjadi salah satu bagian penting Pasar Lawas Mataram 2026. Di tengah aroma jajanan tradisional dan suasana kawasan bersejarah Kotagede, pertunjukan seni menghadirkan cara lain untuk mengenal kembali budaya. Pasar Lawas Mataram bukan sekadar mengajak masyarakat bernostalgia melalui makanan, tetapi juga menyaksikan bagaimana kesenian lama dan baru terus dipelajari, dipentaskan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Alya Arianti Fresta, Manik Pramdhani
Editor: Mahditia Paramita
Daftar Referensi
Radio Republik Indonesia. 2026. Pasar Lawas Mataram Hadirkan Nostalgia Kuliner Kotagede. https://rri.co.id/yogyakarta/hiburan/2764691/pasar-lawas-mataram-hadirkan-nostalgia-kuliner-kotagede (diakses pada 28 September 2026).
Pemerintah Kabupaten Bantul. 2026. Suasana Tempo Dulu Kembali Hadir di Pasar Lawas Mataram 2026. https://bantulkab.go.id/berita/detail/7635/suasana-tempo-dulu-kembali-hadir-di-pasar-lawas-mataram-2026.html (diakses pada 7 Oktober 2026).
Kalurahan Jagalan. 2026. Pasar Lawas Mataram Tahun 2026. https://jagalan.bantulkab.go.id/first/artikel/561 (diakses pada 28 September 2026).