Visi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045 adalah ambisi besar yang membutuhkan komitmen nyata dan tidak dapat terwujud tanpa dasar yang kuat. Namun, fakta yang terjadi sebenarnya justru memperlihatkan ketimpangan. Masih banyak desa mengalami kesulitan dari segi infrastruktur, akses pendidikan, layanan dasar, dan ekonomi. Padahal, desa menyimpan potensi besar sebagai pusat produksi pangan nasional, mengingat sebagian besar lahan pertanian berada di wilayah pedesaan. Lantas, mampukah Indonesia mencapai cita-cita tersebut di tahun 2045?
Salah satu tantangan utama adalah meningkatnya urbanisasi tidak terkendali yang mendorong masyarakat, terutama generasi muda meninggalkan desa untuk mencari kehidupan yang dianggap lebih menjanjikan di kota. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan sisi ketergantungan desa terhadap kota. Akibatnya, lahan pertanian banyak yang terbengkalai karena kekurangan tenaga kerja. Regenerasi petani pun terhambat, sementara kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Diperkirakan 60% penduduk Indonesia tinggal di desa, dengan sekitar 11,34% nya adalah penduduk miskin (BPS, 2024). Selain itu, masyarakat desa seringkali kesulitan mengakses infrastruktur dan teknologi pertanian. Belum lagi kesalahan paradigma yang muncul, yaitu hubungan desa-kota saling bertentangan, artinya keduanya berjalan masing-masing, desa dipandang hanya sebagai daerah tertinggal yang bergantung pada kota, dan kota sebagai daerah yang mengendalikan desa.
Di tengah tantangan tersebut, upaya penyusunan profil desa berbasis data menjadi langkah penting sebagai dasar rencana pembangunan desa. Dengan data yang akurat, pemerintah desa dapat merancang program pembangunan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal. Kemudian, cara pandang terhadap hubungan antara kota dan desa perlu diubah. Alih-alih melihat desa sebagai wilayah tertinggal yang harus menyusul kota, seharusnya desa dan kota diposisikan sebagai wilayah terintegrasi agar distribusi pangan, tenaga kerja, dan inovasi dapat berjalan seimbang. Desa tidak hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi juga pusat inovasi dan ekonomi lokal yang layak dan menarik bagi generasi muda.
Menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045 bukan sekedar khayalan jika mau membangun dengan langkah yang kecil sekalipun. Desa harus ditempatkan di pusat strategi pembangunan nasional. Dengan dukungan data, perubahan paradigma, serta kolaborasi antar sektor, cita-cita besar itu bisa menjadi kenyataan. Tahun 2045, Indonesia mampu menjadi lumbung pangan dunia! (DOM)
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2025, Januari 15). Persentase penduduk miskin September 2024 turun menjadi 8,57 persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/01/15/2401/persentase-penduduk-miskin-september-2024-turun-menjadi-8-57-persen-.html. (Diakses pada 21 Mei 2025)
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2023). Buku Statistik Konsumsi Pangan 2023. https://satudata.pertanian.go.id/assets/docs/publikasi/Buku_Statsitik_Konsumsi_Pangan_2023.pdf. (Diakses pada 21 Mei 2025)
Paramita, M. (n.d.). Buku Pintar Profil Desa: Profil desa yang bermanfaat & mudah. Yayasan Hunian Rakyat Caritra Yogyakarta. (Diakses pada 20 Mei 2025)
World Resources Institute Indonesia. (n.d.). Mengurai kompleksitas urbanisasi dan pembangunan kota berkelanjutan: Mendorong solusi untuk masa depan. https://wri-indonesia.org/id/wawasan/mengurai-kompleksitas-urbanisasi-dan-pembangunan-kota-berkelanjutan-mendorong-solusi-untuk. (Diakses pada 21 Mei 2025)