Kampung Adat Ciptagelar, yang merupakan bagian dari Kasepuhan Ciptagelar, terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat. Kampung ini dihuni oleh lebih dari 32.000 warga, tersebar di sekitar 568 kampung kecil, dan hidup dengan menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pemimpin adat yang dikenal dengan sebutan Abah Ugi memegang peran penting dalam pengaturan kehidupan sosial dan spiritual, memastikan bahwa tradisi tetap terjaga. Sebagai bagian dari masyarakat adat Sunda, Kampung Adat Ciptagelar tidak hanya mempertahankan budaya dan tradisi, tetapi juga menjalin hubungan erat dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Ketahanan Pangan Melalui Leuit
Keberlanjutan kehidupan masyarakat Kampung Adat Ciptagelar tidak hanya tercermin dalam adat dan budaya, tetapi juga dalam cara mereka menjaga ketahanan pangan. Salah satu praktik yang masih dijaga dengan penuh kehati-hatian adalah penggunaan leuit (lumbung padi), tempat penyimpanan hasil panen yang sangat penting untuk memastikan pasokan pangan yang stabil. Setiap keluarga menyisihkan sekitar 10% hasil panen tahunan untuk disimpan dalam leuit, yang secara kolektif mampu menampung hingga 80 ton beras. Leuit ini sangat penting, karena dapat mencukupi kebutuhan pangan masyarakat hingga 5 tahun, bahkan dalam situasi kegagalan panen. Teknik penyimpanan beras di leuit juga dirancang agar dapat bertahan hingga 30 tahun, menjaga ketahanan pangan di masa depan.
Ritual Adat Seren Taun
Selain itu, keunikan Kampung Adat Ciptagelar juga terlihat dalam pelaksanaan ritual Seren Taun, yang menjadi puncak dari kehidupan adat masyarakat. Ritual yang telah dilaksanakan sebanyak 646 kali hingga tahun 2023 ini adalah wujud rasa syukur atas hasil bumi dan sekaligus doa untuk kelimpahan hasil yang berkelanjutan. Prosesi Seren Taun melibatkan tahapan-tahapan penting seperti ngaseuk (menanam padi), mipit (memanen padi), dan nganyaran (mencicipi hasil panen). Puncaknya adalah ngadiukeun, yaitu proses penyimpanan hasil panen di Leuit Si Jimat, lumbung padi keramat yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Ritual ini melibatkan sekitar 2.000 hingga 3.000 orang setiap tahunnya, baik warga lokal maupun pengunjung yang datang untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam tradisi tersebut.
Teknologi Ramah Lingkungan
Meskipun masyarakat Kampung Adat Ciptagelar sangat menghargai tradisi, mereka juga mengadaptasi teknologi ramah lingkungan untuk mendukung kehidupan mereka. Salah satu inovasi yang digunakan adalah turbin air yang memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik, menggantikan ketergantungan pada PLN. Dengan kapasitas pembangkit yang mampu menghasilkan 100 kW, teknologi ini mencukupi kebutuhan energi untuk 80% rumah tangga di Kampung Adat Ciptagelar. Penggunaan teknologi modern seperti gadget atau perangkat elektronik lainnya sangat terbatas dan hanya diperbolehkan untuk kepentingan tertentu yang mendapat izin adat, menjaga agar kehidupan masyarakat tetap sejalan dengan prinsip harmonisasi alam dan budaya.
Destinasi Wisata Budaya dan Keindahan Alam
Selain sebagai pusat kehidupan adat, Kampung Adat Ciptagelar juga menjadi destinasi wisata yang menarik. Keindahan alamnya, dengan udara pegunungan yang sejuk dan panorama sawah yang hijau, menawarkan pengalaman yang menenangkan bagi siapa saja yang mengunjunginya. Rumah tradisional yang terbuat dari anyaman bambu dan kayu tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan suasana yang alami dan sejuk. Kampung ini setiap tahunnya menerima lebih dari 5.000 wisatawan, baik domestik maupun internasional, yang datang untuk mempelajari lebih dalam tentang budaya Sunda. Wisatawan dapat langsung terlibat dalam kegiatan adat seperti menanam padi, mengikuti proses panen, dan belajar mengenai filosofi hidup masyarakat Kampung Adat Ciptagelar yang selaras dengan alam.
Pelajaran dari Kampung Adat Ciptagelar
Secara keseluruhan, Kampung Adat Ciptagelar adalah contoh bagaimana tradisi, alam, dan teknologi bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar bukan hanya menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun, tetapi juga mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan yang mendukung keberlanjutan hidup mereka. Dari ketahanan pangan yang berbasis leuit hingga penggunaan energi terbarukan dari turbin air, Kampung Adat Ciptagelar menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak harus mengorbankan budaya. Kampung ini mengajarkan banyak pelajaran penting tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa kehilangan identitas budaya yang kuat. (ORN)
Referensi:
https://bappeda.jabarprov.go.id/galeri/kampung-gede-kasepuhan-ciptagelar/
https://repository.uinbanten.ac.id/4240/1/Buku%20Budaya%20Masyarakat%20Kasepuhan%20Ciptagelar.pdf