Romantisme desa merupakan ciri khas yang tidak lepas dari kondisi fisik, sosial, dan budayanya. Desa selalu dianggap sebagai wilayah yang identik dengan kejujuran serta keselarasan antara manusia dan alam. Pada abad ke-21 saat ini, desa menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari hiruk-pikuk dan perkembangan kota, regional, maupun global. Namun demikian, saat ini transformasi pada desa sebagai bagian dari sistem pasar (market citizen) menjadi isu serius yang sedang dihadapi. Warga desa dinilai sebagai obyek yang hanya memiliki pengaruh terhadap politik demokrasi dalam lima tahun sekali. Dalam pengembangannya, kesenjangan ekonomi dan sosial antara masyarakat desa dan perkotaan masih menjadi pekerjaan utama yang cukup berat untuk diselesaikan. Untuk itu gerakan membangun Indonesia dari desa menjadi penting untuk digaungkan.

Seluruh negara saat ini sedang dihadapkan dengan tiga arus ekonomi global:

  1. Liberal Market Economy (LME) yang berdampak pada lemahnya peran negara dimana seluruhnya bergantung pada sistem pasar
  2. Coordinated Market Economy (CME) dimana arus bisnis berkembang di atas proses koordinasi dengan negara sebagai fasilitatornya
  3. Socialist Market Economy (SME) yang mempertegas peran negara secara kuat untuk mengatur setiap kepemilikan sektor.

Saat ini, Indonesia terbawa dalam arus ekonomi pasar liberal (Liberal Market Economy) akibat faktor geo-politik dan geo-ekonomi. Fenomena ini menjadikan desa sebagai wilayah yang cukup rapuh, tidak lagi memiliki kendali sebagai supplier dari bahan kebutuhan masyarakat kota, sehingga hubungan antara desa-kota tidak lagi berjalan secara harmonis. Diskursus yang terjadi dalam hubungan desa-kota terjadi akibat urban bias, yaitu fenomena dimana segala proses pertumbuhan, pengembangan, dan kemajuan wilayah hanya terfokus di perkotaan. Selain itu, faktor kemiskinan yang didominasi oleh masyarakat pedesaan juga menjadi pengaruh utama. Adanya arus globalisasi mengintervensi perusahaan multinasional yang mendorong perkembangan impor berbagai jenis bahan baku, khususnya pangan, berpotensi memutus rantai desa-kota yang sudah ada sebelumnya. Produksi desa tidak lagi akan mempengaruhi besar kecilnya konsumsi pada wilayah perkotaan, begitupun sebaliknya.

Menjawab permasalahan besar tersebut, Dr. Aris Arif Mundayat, Ph.D, mengangkat sebuah konsep baru terkait Sistem Ekonomi Gotong Royong (SEGR) dan diulas cukup mendalam dalam Kongres Kebudayaan Desa seri ke-17.

Seperti apakah Sistem Ekonomi Gotong Royong (SEGR) itu?

Skema Sistem Ekonomi Gotong Royong (SEGR)

 

Pada dasarnya, SEGR merupakan sebuah konsep yang menempatkan desa dalam sistem negara dan dunia. Rumusan tatanan baru diusulkan sebagai jawaban atas kegelisahan akibat ketimpangan desa-kota yang tak kunjung usai. Dalam konsep tersebut, desa tidak akan lagi menjadi obyek pasif dalam pengembangan ekonomi nasional, melainkan desa sebagai salah satu pemeran dalam membangun mata rantai gotong royong dari proses produksi, distribusi, hingga pasar sebagai sebuah hubungan supply-demand. SEGR berprinsip pada keadilan distributif yang dibangun melalui solidaritas antar individu maupun kelompok.

Dr. Aris Arif Mundayat, Ph.D juga menjelaskan bahwa saat ini dari segi politik, terjadi proses kapitalisme (political capitalism) yang menjadikan negara hanyut ke dalam sistem ekonomi liberal. Indonesia tidak lagi memiliki kesempatan untuk membangun ekonomi sendiri. Oleh karena itu, konsep SEGR mendorong peran masyarakat lokal untuk menguasai mata rantai supply-demand dari hulu ke hilir.

Model Sistem Ekonomi Gotong Royong (SEGR)

 

Pada model pengembangan SEGR, peran setiap pelaku ekonomi akan memiliki hubungan timbal balik antara wilayah desa sebagai penyedia sumber daya alam dan pengolahan basis industri hulu, serta wilayah kota sebagai pasar utama dalam memutar roda perekonomian negara. Dengan demikian, desa tidak lagi menjadi obyek pasif yang hanya melihat perputaran ekonomi tanpa mendapatkan dampak positif di dalamnya. Selain itu, proses mengikutsertakan desa dalam rantai supply-demand diharapkan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat desa dan memastikan bahwa desa dapat berkembang serta tidak tergerus arus ekonomi global. –  (ADS/MEIP)

 

#kongreskebudayaandesa #desamelawancovid #membacadesamengejaindonesia

 

Artikel ditulis berdasarkan Webinar Kongres Kebudayaan Desa tanggal 10 Juli 2020