Kongres Kebudayaan Desa Seri 16 yang dilaksanakan pada 9 Juli 2020 kali ini mengangkat topik Keluarga: Reformulasi Peran Strategis Keluarga dalam Pemuliaan Martabat Manusia untuk Tatanan Indonesia Baru. Kongres kali ini akan menjawab bagaimana cara keluarga menghadapi pandemi COVID- 19 sehingga menjadi lebih kuat dan lebih dekat satu sama lain. Orang tua dan anak saling berperan untuk memprioritaskan keluarga. Apa saja yang bisa diperankan oleh keluarga? Sebagai lingkup terkecil dari negara, pemerintah desa punya kebijakan apa bagi masyarakatnya? Karena tidak bisa dipungkiri, peran pemerintah desa sangat krusial untuk keberlangsungan hidup keluarga di masyarakatnya.

Narasumber yang dihadirkan pada Webinar Kongres Kebudayaaan Desa Seri ke 16 merupakan pakar dan akademisi yang ahli dalam bidang keluarga. Ada 4 Narasumber yang hadir yaitu dr. Hasto Wardoyo,Sp.OG selaku Kepala BKKBN, lalu ada Najeela Shihab selaku Pendiri Sekolah Cikal. Kemudian dari kalangan akademisi ada Prof.Dr. Tina Alfiantin, Msi dari Psikologi UGM dan yang terakhir Alissa Wahid sebagai Penggagas Jaringan Gusdurian.

Pemaparan pertama oleh yaitu dr. Hasto Wardoyo,Sp.OG selaku Kepala BKKBN, beliau menjelaskan mengenai kiprahnya saat menjadi dokter dahulu dan pada saat menjadi Bupati Kulon Progo. Masalah di era pandemik selalu berkaitan dengan keluarga. Kemudian beliau menekankan bahwa pitutur luhur sangat berpengaruh dalam keluarga saat tinggal di lingkungan desa, dan bagaimana peran strategis keluarga untuk pemuliaan martabat manusia.

Keluarga sangat dituntut untuk membeli produk sendiri karena ekonomi keluarga penting dalam kemandirian. Produk lokal menjawab, untuk mengatasi masalah ekonomi pada era pandemik ini. Beliau juga mencontohkan, pada saat menjabat sebagai Bupati Kulon Progo mereka membatasi minimarket konvensional mengganti minimarket asli ToMiRA (Toko Milik Rakyat) yang didalamnya menjual produk masyarakat Kabupaten Kulon Progo. Membangun sistem yang bentuknya kerakyatan dalam menghidupkan keluarga lewat transformasi teknologi. Ekonomi yang tertutup di era pandemik ini membawa pengaruh positif yaitu sebagai kesempatan bagi desa dan keluarga menguasai pasar, demi kesejahteraan Desa dan Keluarga. Tantangan membuat sistem ekonomi kerakyatan adalah inovasi yang didasari tanpa kepentingan individu dan kepercayaan yang dimulai dari hal paling kecil, dimana lambat laun masyarakat akan mempercayai hal tersebut.

Pemaparan kedua oleh Najeela Shihab selaku Pendiri Sekolah Cikal mengenai Keluarga dan Pendidikan di Era New Normal. Pertama  beliau menjelaskan peran orangtua dengan  3  prinsip cinta yaitu berkaitan dengan disiplin positif, belajar efektif dan hubungan efektif.  CINTA yaitu Cari cara sepanjang masa, Ingat impian tinggi, Nerima tanpa drama, Tidak takut salah, Asyik main bersama.  Kemudian beliau menjelaskan mengenai hambatan dan tantangan keluarga misalnya adaptasi teknologi, dalam kenyataannya murid tidak dapat mengakses digital karena keterbatasan peralatan dan koneksi. Pendidikan di keluarga begitu penting, pengasuhan keluarga yang kolaboratif dapat membantu berjalannya sebuah keluarga.

Pemaparan ketiga dilakukan oleh Prof. Dr. Tina Alfiantin, Msi dari Psikologi UGM menjelaskan Strategi Menghadapi Pandemi Covid 19 Berbasis Ketahanan Psikologis Keluarga. Beliau menjelaskan keluarga merupakan cikal bakal ketahanan nasional tetapi seiring dengan perkembangan zaman, keluarga bisa menjadi faktor protektif atau resiko. Dampak Pandemi Covid tidak hanya secara kesehatan namun adanya dampak sosial dan ekonomi. Diperlukan perubahan perilaku dalam era pandemi sesuai dengan protokol kesehatan, tetapi pada kenyataannya masyarakat masih banyak yang tidak patuh. Hal ini berdampak pada pentingnya anggota keluarga untuk intervensi terhadap pencegahan.

Kemajuan teknologi akan mengubah interaksi antara anggota keluarga, berkaitan dengan parenting apakah akan dilakukan secara daring atau luring. Sehingga orang tua bisa menyesuaikan pengasuhan sesuai dengan kebutuhan anak. Ketahanan psikologis akan tegak apabila dalam interaksi keluarga yang positif dan Spiritual Well-Being.

Pemaparan terakhir oleh Alissa Wahid sebagai Penggagas Jaringan Gusdurian yang mengangkat Membangun Ketangguhan  Keluarga dari Desa. Pertama membahas pondasi keluarga yang menjadi kunci dari ketahanan keluarga. Apabila pondasi sudah kuat, permasalahan di era pendemi ini dapat teratasi.  Beliau menerapkan konsep gunung es, kebanyakan orang hanya melihat keluarga  dari permukaan saja tanpa melihat akar dalam keluarga itu sendiri. Inovasi ketangguhan keluarga dimulai dari individu yang kemudian akan berlangsung ke desa atau bahkan negara. Selanjutnya keunggulan desa dalam membangun keluarga adalah  guyub, area yang terbatas, kemandirian desa, pelibatan masyarakat bisa optimal dan yang terakhir dukungan UU Desa.

Merubah pemikiran dan pemahaman anak harus dengan ilmu pengetahuan agar perilaku berubah dan yang disampaikan didiklah anak sesuai dengan zamannya karena anak tidak hidup sesuai dengan zaman orang tua. Refleksi pola pengasuhan dimasa lalu yang baik dilanjutkan dan yang tidak baik ditinggalkan. Selanjutnya menetapkan tujuan pengasuhan dan teknik yang harus dilakukan dalam pola pengasuhan anak. Terus mencoba pola pengasuhan yang tepat, apabila gagal coba lagi dengan pola yang lain. Libatkan semua bagian keluarga dalam merencanakan apa yang akan dilakukan kedepannya dan sering berkomunikasi antar anggota keluarga. Hal ini sangat diharapkan dari Desa maupun Pemerintah dalam menyusun kebijakan yang  pro keluarga. (SFA/PNG)