Skema new normal yang akan dihadapi Indonesia sebagai dampak pandemi COVID-19 akan membawa berbagai perubahan baru termasuk bagi masyarakat perdesaan. Menurut Rudy Suryanto, founder Bumdes.id, new normal akan membawa kehidupan desa kembali ke basic misalnya kembali kepada sektor pertanian, sifat gotong-royong, dan menggiring masyarakat kembali pada kebiasaan memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara mandiri. Lebih jauh lagi, Prof. Gunawan Samodiningrat, Guru Besar UGM sekaligus tokoh ekonomi kerakyatan Pancasila, menilai bahwa new normal akan membawa Indonesia kembali ke jati diri bangsa yakni bahwa pembangunan Indonesia dimulai dari desa.

Pandemi COVID-19 memang telah melemahkan kehidupan ekonomi desa tanpa kecuali termasuk pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Yanni Setiadiningrat, tokoh penggerak Bumdes Ponggok, mengakui adanya dampak yang signifikan pada BUMDes Ponggok. Desa Ponggok merupakan desa yang memiliki berbagai potensi pada bidang perairan. Dengan potensi tersebut, BUMDes Ponggok mampu menyumbang pendapatan bagi kas desa hingga miliaran rupiah dengan menggerakan usaha perikanan, fasilitas penyediaan air, dan pariwisata perairan. Sebagai BUMDes yang memanfaatkan potensi perairan, adanya pandemi COVID-19 tentu menuntut adanya inovasi bagi kelangsungan BUMDes Ponggok. Berkaitan dengan hal tersebut, Yanni menjelaskan BUMDes Ponggok telah beradaptasi misalnya dengan beralih menjual cemilan olahan ikan nila. Hal ini dilakukan karena peluang untuk menjual ikan nila segar semakin kecil akibat kondisi pemancingan dan restoran yang masih tutup di masa pandemi ini. Di samping itu, BUMDes Ponggok senantiasa melanjutkan kerja sama dengan berbagai pihak misalnya dengan PT. Danone dalam upaya bangkit membangun desanya.

Nugroho Setijo, Direktur PUED Kemendes PDTT, menjelaskan dampak ekonomi yang ditimbulkan pandemi COVID-19 di desa terjadi pada berbagai sektor. Dalam aspek pasar barang misalnya, terhambatnya jalur distribusi menuju pasar telah berdampak pada penurunan pendapatan dan kelangsungan produksi. Hal ini kemudian berdampak juga pada sektor pasar uang atau kredit. Kelesuan produksi dan pasar akhirnya mempengaruhi kapasitas pelaku usaha mikro dan kecil serta koperasi yang memiliki fasilitas kredit sehingga menimbulkan resiko tunggakan pinjaman.

Guna menanggulangi berbagai dampak tersebut, diperlukan penyiapan strategi “Desa Reborn”. Nugroho menjelaskan penyiapan strategi “Desa Reborn” perlu disiapkan dalam dua fase yaitu fase penyelamatan (jangka pendek) serta fase pemulihan (jangka menengah). Fase penyelamatan telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya menjamin daya beli masyarakat dan keberlanjutan pendapatan masyarakat miskin di desa. Sementara, upaya pada fase pemulihan merupakan upaya penyiapan kelahiran kembali aktivitas-aktivitas sosial dan ekonomi perdesaan. Adapun Nugroho menambahkan, “Desa Reborn” perlu difokuskan pada desa wisata dan pemasaran desa yang didukung teknologi digital serta penguatan BUMDes agar basis perekonomian desa tetap terjaga dan bangkit. Di samping itu, Nugroho juga merekomendasikan penguatan modal BUMDes melalui Dana Desa mengingat bahwa Program Ekonomi Nasional tidak menyentuh keberadaan BUMDes. Mari kita bangkit kan kembali upaya membangun Indonesia dari desa!! (NRT/MG)

 

Artikel ditulis berdasarkan Webinar “Recovery Membangun Indonesia dari Desa” yang dilaksanakan pada Selasa, 9 Juni 2020, pukul 13:30-15:00.