Tahukah Anda bahwa mulai tahun 2020 ini desa terancam terjebak pada kondisi ekonomi yang sulit dan rentan terjadi krisis ekonomi desa. Kemenkeu memproyeksikan sampai akhir tahun 2020 akan terjadi peningkatan angka pengangguran hingga 5 (lima) juta orang apabila pandemi Covid-19 tidak segera  tertangani dengan baik. Peningkatan angka pengangguran juga diprediksi berdampak pada merosotnya daya beli dan ekonomi masyarakat yang ditandai dengan munculnya 3,78 juta orang miskin baru yang mayoritas terjadi di desa. Kemiskinan yang terjadi di desa dikarenakan masyarakat perkotaan yang kehilangan pekerjaan memutuskan untuk pulang ke desa, yang berpengaruh terhadap ekonomi desa.

Demi menyelamatkan desa, pemerintah melalui Kementerian Desa PDTT merealokasi dana desa dengan total Rp 71,19 triliun untuk Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) guna membantu masyarakat di 74.953 desa dan memenuhi kebutuhan dasarnya selama masa pandemi COVID-19 ini.  Besaran alokasi BLT-DD berbeda – beda tergantung dari jumlah keluarga miskin. Alokasi besaran BLT DD ditetapkan dalam Permendes PDT No. 6 Tahun 2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020 yaitu sebesar Rp 600.000 per keluarga selama 3 (tiga) bulan dari bulan April hingga Juni 2020. Alokasi ini diharapkan mampu membantu menyelamatkan ekonomi desa agar tidak kian terpuruk.

Apakah desa hanya bertahan dari bantuan selama 3 (bulan)? Tentu tidak. Bagaimana dengan rencana jangka menengah bahkan jangka panjang? Desa harus mulai bekerja, memproduksi, memasarkan tetapi harus secara kolektif. Selain menyiapkan bantuan langsung tunai, pemerintah juga menyiapkan program padat karya tunai desa. Program padat karya tunai desa ditujukan untuk menjaga daya tahan ekonomi desa dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19. Berbeda dengan BLT-DD, program padat karya tunai memiliki potensi kebermanfaatannya untuk jangka panjang. Program padat karya tunai lebih fleksibel digunakan namun terdapat syarat yang harus dipenuhi yaitu penggunaan dananya untuk meningkatkan ekonomi desa. Dalam hal ini, kita ketahui bersama bahwa infrastruktur ekonomi milik desa yang memiliki potensi besar untuk kemajuan ekonomi desa sekaligus mampu menjadi alternatif penyelamat ekonomi desa adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Peran strategis BUMDesa dalam peningkatan ekonomi desa adalah sebagai usaha kolektif untuk menciptakan lapangan kerja baru, pengamanan ketersediaan pangan, dan layanan publik. BUMDesa harus menjadi garda terdepan menghadapi segala permasalahan terkait aspek ekonomi yang melanda desa termasuk dalam kondisi bencana seperti masa pandemi COVID-19 ini. Jenis usaha BUMDesa dapat berupa pengelolaan air bersih, irigasi, kebutuhan pangan, atau potensi desa yang lainnya. Kuncinya adalah perekonomian harus berputar di desa itu sendiri sehingga bisa dijadikan salah satu senjata dalam mengatasi keterpurukan ekonomi yang terjadi saat ini

Desa Panggungharjo di Kecamatan Sewon, Bantul DIY merupakan salah satu desa terdampak COVID-19 yang mampu memanfaatkan BUMDesa-nya untuk mengembangkan ekonomi desa di masa sulit ini. BUMDesa Panggung Lestari, melakukan inovasi untuk meningkatkan perputaran uang di Desa Panggungharjo dengan digitalisasi pasar desa yang diwujudkan dalam platform pasardesa.id. Tujuannya adalah mempertemukan pelaku usaha dengan warga yang masih memiliki daya beli di Desa Panggungharjo. Barang – barang yang dijual di pasardesa.id merupakan barang – barang di toko/warung yang dijual oleh warga Panggungharjo. Jadi penduduk desa bisa tetap berjualan meskipun kondisi pandemi ini mengharuskan di rumah saja.

Inovasi yang dilakukan Desa Panggungharjo melalui pemberdayaan BUMDEsa-nya memberikan dampak positif terhadap kestabilan ekonomi desa. Kunci munculnya ide pasardesa.id yang dikelola BUMDEsa Panggung Lestari ini adalah karena mereka berharap menghasilkan sesuatu yang terbaik, bersiap untuk kondisi yang terburuk, dan tidak berdiam diri dalam kondisi sulit. Jadi coba pikirkan lagi, desa mau tetap berdiam diri mengandalkan bantuan dari luar atau bergerak dengan inovasi seperti BUMDesa Panggung Lestari dengan pasardesa.id agar ekonomi desa terselamatkan? (BVY-CARITRA)