Masterplandesa.com – Teknologi tepat guna bagi perdesaan kini terus digalakkan oleh Pemerintah Pusat. Bahkan pada Gelaran Teknologi Tepat Guna Nasional (TTGN) XXI di Bengkulu pada akhir tahun 2019 lalu, tema yang diangkat adalah “Melalui Gelar TTGN, Kita Tingkatkan Inovasi Teknologi Perdesaan Menyongsong Industri 4.0”. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo menyatakan bahwa Gelaran TTGN adalah salah satu upaya strategis untuk memotivasi masing-masing daerah agar dapat mengembangkan teknologi. Permasalahan limbah dan pencemaran saat ini juga mulai mewarnai pedesaan, terutama daerah perdesaan yang sudah mengkota dan dekat dengan kawasan industri. Pengetahuan teknologi tepat guna, yang masih kurang dimasyarakat juga memotivasi pengembangan teknologi yang aplikatif.

 

Pada dasarnya, teknologi adalah cara untuk membuat berbagai hal menjadi lebih mudah dan praktis demi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Teknologi yang dikenalkan di masyarakat perdesaan harus mudah digunakan, mudah pemeliharaannya dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, berbicara tentang teknologi tepat guna, tidak harus selalu berhubungan dengan teknologi yang rumit dan sulit diaplikasikan. Teknologi sederhana untuk mengurangi dampak pencemaran sungai seperti wetland menjadi alternatif teknologi di bidang sanitasi yang diakomodir oleh pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk mendukung Program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).

 

Program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) merupakan sebuah inisiasi mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman yang berbasis masyarakat. Hanya saja penggunaan teknologi IPAL Komunal ini, belum disertai dengan pemahaman kepada masyarakat bagaimana pemeliharaannya agar dapat berfungsi dalam jangka panjang. Program SLBM di RW 09 Desa Mlipak dilaksanakan oleh KSM Sekar Arum. Pelaksanaan fisik SLBM pada tahun 2011 menghasilkan teknologi septic tank komunal bersusun sebanyak 5 unit yang terhubung dengan 151 rumah dengan total 668 jiwa penduduk. Akan tetapi, dari 5 unit septic tank yang tersebar di wilayah Desa Mlipak, 2 unit diantaranya menimbulkan permasalahan dan mengganggu kenyamanan lingkungan. Hal ini disebabkan karena outlet pembuangan yang terbuka dan mengarah ke sungai, bahkan salah satu outlet pembuangan mengarah ke rumah warga yang posisinya lebih rendah dari jalan. Outlet pembuangan ini menimbulkan bau tidak enak yang menyengat terutama ketika debit aliran sungai sedang kecil.

Program kerjasama pembangunan infrastruktur multipihak (tripartit) antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Yayasan HRC Caritra, menjawab permasalahan yang muncul di beberapa lokasi program SLBM dengan memperkenalkan teknologi mengurangi pencemaran air limbah dengan menggunakan wetland.

.

Outlet saluran yang mengarah ke sungai

Outlet saluran yang mengarah ke sungai

 

Pembuangan dari outlet yang mengarah langsung ke sungai sebenarnya tidak akan menimbulkan bau jika penggunaan septic tank mengikuti prosedur yang benar. Pada kenyataannya, greywater seperti air bekas sabun cuci, pemutih, dan cairan pembersih kamar mandi sering ikut dibuang ke saluran septic tank sehingga membunuh bakteri pengurai limbah kotoran. Ketika bakteri pengurai tidak bertahan hidup di dalam septic tank, proses penguraian kotoran di septic tank terhenti dan bertumpuk serta mengeluarkan bau menyengat, hal inilah yang menimbulkan pencemaran udara dan buangan sisa air dari IPAL komunal yang dibuang ke sungai.

Penanganan pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan fungsi septic tank sebagai pengolah limbah, tidak hanya sebagai penampung limbah. Kita harus membuang greywater pada tempatnya dan tidak mencampurnya ke dalam saluran septic tank. Penanganan selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan teknologi wetland.

Mekanisme penghilangan polutan pada Wetlands. Sumber: Kajumulo, 2008

Mekanisme penghilangan polutan pada Wetlands. Sumber: Kajumulo, 2008

Wetland atau lahan basah adalah suatu lahan yang jenuh air dengan kedalaman air kurang dari 0,6 meter yang mendukung pertumbuhan tanaman air. Wetland buatan dapat diartikan sebagai ekosistem rawa buatan manusia yang didesain khusus untuk memurnikan air tercemar dengan mengoptimalkan proses-proses fisika, kimia, dan biologi dalam suatu kondisi yang saling berintegrasi seperti yang biasanya terjadi dalam sistem rawa alami. Wetland dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis tanaman hingga cara pemasangan pipa aliran airnya. Wetland yang diaplikasikan di Desa Mlipak adalah wetland tipe aliran  bawah permukaan. Wetland tipe ini selain ditanami dengan berbagai tanaman akar tenggelam juga dilengkapi dengan pasir dan batu kerikil untuk menyaring air limbah. Aliran air kemudian dialirkan ke bawah, bukan ke permukaan sehingga menurunkan kemungkinan menyebarnya bau tidak enak yang menyengat. Gambaran penampang wetland yang digunakan di Desa Mlipak adalah sebagai berikut:

 

Subsurface Flow Wetlands atau lahan basan aliran bawah permukaan. Sumber : Victor et al, 2002

Subsurface Flow Wetlands atau lahan basan aliran bawah permukaan. Sumber : Victor et al, 2002

Konsep wetland ini sudah banyak dimanfaatkan di daerah perkotaan yang memiliki lahan terbatas dan tetap menginginkan kualitas lingkungan yang baik tanpa adanya pencemaran limbah. Tanaman yang digunakan berupa tanaman air antara lain Pontederia cordata, cana air, melati air, Cyperus papyrus, Typha angustifolla.

Tanaman Hias untuk Pengisi Wet Land

 

Teknologi wetland tidak hanya berfungsi untuk membersihkan air limbah yang tercemar dan bau, namun juga memiliki nilai estetika terutama jika didukung dengan pemilihan tanaman hias yang dapat mempercantik area perdesaaan. Dalam mengaplikasikan sebuah teknologi di desa kita tidak harus mulai dengan sesuatu yang muluk-muluk dan rumit. Yang terpenting adalah dapat menjawab permasalahan masyarakat di desa, mudah dipahami, dan mudah diaplikasikan. Jangan sampai lingkungan perdesaan kita tercemar karena tidak adanya teknologi pengolahan limbah yang dapat dipahami oleh masyarakat!! (MEIP/CARITRA)